Cerpen Kebaikan Sejati

" Hmm kau melakukan Kebaikan Sejati lagi ya nona Risa " kataku pada Risa.

" ya tidak masalah kan yang penting aku ikhlas.


" Kenapa sih kamu selalu komplain jikalau aku menolong mereka, kan mereka memang layak di bantu" kata Risa membalas ucapanku.


" Sampai kapan kau sadar bahwa kau itu hanya di manfaatkan.

 

Cerpen, Cerpen Romantis


" Ingatlah baik dan bodoh itu beda tipis, jangan sampai kau menyesal di kemudian hari" .

 

" Terserah kau mau berkata apa, yang penting aku melakukan itu atas dasar kemanusiaan dan hanya mengharapkan Ridha Allah semata. Aku tidak peduli aku akan mendapatkan balasan baik atau buruk. ribuan kali kau berkata apapun aku tidak peduli" .

 

Setelah berkata demikian Risa beranjak pergi meninggalkanku. Aku hanya diam di tempat sambil melihat dia melangkahkan kakinya menjauhiku sembari berkata dalam hati apa yang kukatakan padanya adalah kebenaran.

Karena dahulu keluargaku menderita akibat ayahku yang terlalu baik pada banyak orang. Akibatnya ia dimanfaatkan, ditipu lalu di fitnah dan kemudian ia meninggal dunia dan ibuku tak berapa lama juga menyusulnya karena sakit-sakitan. Kini hanya tinggal aku yang menjadi tulang punggung keluarga bagi aku dan adik-adikku.

Keesokan harinya aku tak sengaja melihat dia memberikan uang pada seseorang yang tidak dia kenal hanya karena dia merasa bahwa ia harus menolong pria tua itu. Aku yang melihat kejadian itu langsung merampas uangnya dari pak tua itu. Dan marah kepada gadis manis nan polos itu.

 

" Apa sih yang kau pikirkan?? Kenapa kau begitu mudahnya memberikan uang pada orang lain yang tidak kau kenal.

 

" Apa kau tak pernah berpikir bahwa pak tua itu adalah seorang penipu " Aku berkata dengan suara meninggi padanya karena kesal bahwa gadis ini tak pernah sadar atas ucapanku.

 

" Kembalikan uang itu Fajri " Risa menarik tanganku dengan paksa untuk mengambil kembali uangnya lalu ia memberikannya kembali pada pak tua tadi.

 

" Ambil saja uangnya pak dan segera pergi dari sini karena orang ini orang aneh ".

 

" Tapi dek, bapak tidak enak menerimanya karena gara-gara bapak kalian berdua jadi bertengkar. Bapak kembalikan Saja uangnya dek, biar bapak coba cari pinjaman ke orang lain saja.

 

" Tidak apa-pak ambil saja uangnya, bapak kan memang lagi butuh uang. Bapak segera pergi saja dari sini biar saya yang urus pria itu" .

 

Pak tua itu menuruti perkataan Risa dan segera pergi menjauh dari sisi kami berdua yang tengah dalam suasana yang tidak mengenakkan" .

 

" Risa kenapa kau terus-terusan seperti ini, aku tidak melarangmu untuk menolong orang lain tapi tolong sebelum kau menolong orang lain gunakan pertimbangan logikamu.

 

" Apa kau tidak pernah berpikir bahwa pak tua tadi hanya berpura-pura untuk mendapatkan simpati dan uangmu" .

 

" Aku tidak bodoh Fajri, aku memikirkan semua dahulu. Apakah dengan menolong orang lain yang tidak aku kenal itu membuat nyawaku terancam atau tidak atau bahkan merugikanku. Selama nyawaku tidak terancam dan aku tidak merugi, aku akan menolong mereka yang tidak ku kenal.

 

" Tapi jika itu untuk menolong orang yang aku kenal dan aku sayangi kurasa memberikan nyawaku pun aku ikhlas" Gadis itu tersenyum manis padaku ketika ia menyelesaikan kata-katanya.

 

" Aku pamit dulu ya, assalamu alaikum" .

 

" Walaikumsalam, tapi tunggu dulu Risa. Jangan pergi dulu aku belum selesai bicara"

 

Gadis itu pun meninggalkanku bersamaan mentari yang mulai terbenam.

Hari itu mungkin adalah hari dimana terakhir kalinya aku berjumpa dengannya. Sejak saat itu aku tidak pernah berjumpa lagi dengannya. Mungkin gadis itu sedang sibuk atau mungkin dia sedang pergi liburan ke luar kota dengan keluarganya. Kurasa itulah alasan yang masuk akal mengapa akhir-akhir ini aku tidak pernah menjumpai gadis lagi.

Di saat ketidakhadirannya, aku mulai berpikir tentang apa itu kebaikan. Kebaikan yang bukanlah sebuah topeng tapi kebaikan sejati. Kebaikan sejati yang tidak pernah mempedulikan baik buruknya sebuah balasan yang ia terima. Dan apa yang dipikirkan orang seperti Ayah serta Risa yang senang melakukan kebaikan walau nantinya hal buruk yang mereka terima.

Waktu sudah berlalu hingga dua bulan dan gadis itu tak pernah lagi aku jumpai. Tidak ada kabar sedikitpun dari Risa bahkan nomor teleponnya pun tidak bisa dihubungi, gadis yang sedari kecil berteman akrab denganku kini aku merasa kehilangan dia. Walau begitu aku tetap menjalani aktivitasku seperti biasa yaitu bekerja dan mengurus adik- adikku.

Suatu malam saat aku pulang bekerja aku merasa badanku kurang enak dan sedikit menggigil. Demi menghangatkan badan aku berniat membeli bandrek hangat yang dijual diseberang toko tempat biasa aku bekerja. Saat aku berada tepat di tengah jalan tiba-tiba sebuah mini bus yang tidak terkendali melaju tepat ke arahku. Aku sempat berpikir untuk menghindar namun kepalaku mendadak pusing dan pandanganku kabur.

Aku berpikir inilah akhir hidupku. Aku pasrah sambil melihat kearah mini bus yang entah kenapa bergerak seperti slow motion. Mungkin ini efek dari pusing di kepalaku dan karena kematianku sudah akan menjemputku, seperti yang biasa aku saksikan di dalam film yang aku tonton dulu di bioskop.

Mini bus itu semakin lama semakin mendekatiku, aku rasa inilah akhirnya. Aku tersenyum dan berkata jika ini memang akhirku aku tidak akan menyesal sama sekali, aku harap setelah kepergianku, engkau akan menjaga saudara-saudariku ya Allah seperti aku yang selalu menjaga mereka. Namun sebelum mini bus itu menabrakku, aku tersadar dengan suara teriakan keras seorang wanita yang berlari mendekatiku.

 

" Apa yang kau lakukan Fajri, kenapa kau diam saja apa kau ingin mati? " Risa berteriak keras padaku sambil menangis mendekatiku.

 

Apa dia itu Risa?? tidak mungkin pikirku. Gadis yang tanpa kabar telah menghilang 2 bulan lalu tiba-tiba ada di hadapanku. Gadis yang berlari saat ini menujuku kurasa adalah salah satu efek dari ilusi akhir hayatku, seperti mini bus itu misalnya yang sedang slow motion akan menabrakku.

Risa mendorongku menuju arah berlawanan dengan arah ia datang. Saat itu aku sadar dia bukanlah ilusi. Sontak air mataku tiba-tiba mengalir dan rasa sakit menusuk hatiku. Aku ingin menariknya dengan tanganku agar ia tidak tertabrak mini bus itu. Namun tidak bisa karena tubuhku sudah terlempar jauh darinya. Walaupun kelihatannya mustahil tapi aku tetap berdiri berusaha menolong dia yang telah menolongku. Sesaat sebelum mini bus itu menabraknya, Risa berkata berkata sambil tersenyum manis padaku.

 

" Lihat seperti yang aku katakan kan, memberikan nyawaku pun aku ikhlas demi menolong orang yang aku cintai ".

 

Dia pada akhirnya tertabrak oleh mini bus tersebut karena menyelamatkan aku dan supir mini bus itu melarikan diri usai menabrak Risa. Risa yang tertabrak tubuhnya terpental kesisi kiri jalan tak jauh dari hadapanku. Aku berlari menuju tubuhnya dan berharap dia masih hidup. Dan syukurlah gadis itu masih bernafas namun ia tak sadarkan diri.

Aku mengangkat tubuhnya dengan kedua tanganku sambil meminta tolong pada setiap kendaraan yang lewat untuk membantuku membawanya ke rumah sakit agar ia segera mendapatkan pertolongan. Namun tak ada seorangpun yang menolongku di tengah keramaian ini. Mereka hanya menonton dan tak ingin terlibat dengan urusan seperti ini. Disaat aku berputus asa. Seseorang pria memegang pundakku dari belakang.

 

" Cepat naikkan gadis itu ke becak motorku, aku akan membawanya ke rumah sakit "

 

Aku bersegera mengangkat tubuh Risa ke becak motornya. Lalu kami langsung berangkat menuju rumah sakit. Diperjalan bapak tersebut mengutarakan alasan kenapa ia mau menolongku padahal sebelumnya dia tidak berniat sama sekali menolongku.

 

" Sebenarnya aku hanya ingin menolongmu karena aku melihat adik itu. Karena beberapa bulan yang lalu saat anakku satu-satunya menderita sakit parah, aku kebingungan untuk membayar biaya perobatannya yang cukup mahal di rumah sakit.

 

" Aku pergi kembali menarik sekaligus mencari pinjaman ke sana kemari namun hasilnya nihil. Namun aku bertemu adik ini yang ingin pulang diantarkan dengan becak motorku" .

 

" Mungkin karena melihat wajahku yang pucat dan murung, adek ini bertanya padaku, ia menanyakan kenapa aku berwajah aneh begitu. Aku pun menceritakan kesulitanku padanya namun saat itu aku tak pernah berpikir ia akan membantuku" .

 

" Sesampainya di rumahnya, gadis ini memberikanku sejumlah uang yang aku butuhkan untuk pembayaran biaya rumah sakit. Pada mulanya aku menolaknya karena aku tak mengenalnya" .

 

" Tapi adik ini malah tersenyum padaku dan bilang: Ambil saja pak saya bukan orang jahat kok, lagi pula saya ini orang kaya raya, jadi uang itu tak berarti apa-apa buat saya hahaha" .

 

" Sejak saat itu aku tak pernah melupakan wajah adik ini yang merupakan dewi penyelamat yang dikirimkan padaku. Aku sempat mengunjungi rumahnya sebulan yang lalu untuk meminta maaf karena belum bisa mengembalikan uang yang aku pakai namun kata tengganya mereka sudah lama pindah dari rumah tersebut" .

 

" Dia memang selalu seperti itu pak, sangat baik tak peduli pada siapapun itu. Aku harap dia mampu bertahan hingga rumah sakit" .

 

" Bapak juga berharap dia akan selamat, karena bapak masih ingin membalas budi padanya" .

 

Tak berapa lama sampailah kami di rumah sakit. Aku bersegera mengangkat Risa dari becak motor lalu berlari ke depan ruang administrasi, meminta tolong pada mereka yang aku temui untuk segera melakukan pertolongan pada Risa. Mereka memang membawa Risa ke ruang gawat darurat.

Tapi alangkah terkejutnya aku ketika mengetahui bahwa mereka belum melakukan pengobatan pada Risa sebelum aku menyelesaikan biaya administrasinya. Aku yang pada saat itu memang tidak membawa uang hanya bisa sujud memohon untuk segera melakukan pengobatan pada Risa.

 

" Aku mohon suster tolong lakukan pengobatan pada Risa terlebih dahulu, masalah administrasinya akan aku selesaikan setelah dia diobati" .

 

" Tapi tidak bisa pak, saya hanya mengikuti prosedur dari rumah sakit, saya tidak bisa melakukannya" .

Aku memohon berulang kali pada suster tersebut namun dia tetap berkata bahwa hal itu tidak bisa dilakukan. Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa saat itu. Aku bingung, sedih dan juga takut kehilangan Risa. Semua perasaan itu bercampur aduk membuat aku kehilangan pikiran normalku.Saat aku kehilangan pikiranku sebuah sentuhan hangat kembali meraih pundakku. kali ini dari seorang pria muda berpakaian dokter. Sang dokter berkata sesuatu hal yang mengembalikan pikiranku dan harapanku.

 

" Aku akan menanggung seluruh biaya perawatan gadis itu, suster. Tolong segera laksanakan operasi padanya" .

 

Mendengar hal itu aku berlutut padanya lalu mencium tangannya sambil mengucapkan rasa terima kasihku padanya.

 

" Terima kasih pak dokter atas kebaikan anda, apapun yang terjadi kelak saya akan mengembalikan biaya perawatannya.

 

" Sudahlah tidak usah berterima kasih padaku, aku hanya membalas hutang budiku padanya" .

 

" Apa maksud anda pak dokter" Tanyaku penasaran.

 

" Setengah tahun yang lalu beliau pernah menyelamatkan ayahku saat penyakit jantungnya kumat. Apa yang aku lakukan saat ini adalah salah satu rasa terima kasihku padanya" .

 

" Tapi walaupun begitu aku sangat berterimakasih pada anda. Jikalau tidak ada anda maka nyawa Risa akan langsung hilang tanpa adanya tindakan pertolongan.

 

" Berterimakasihlah nanti saat beliau berhasil diselamatkan, untuk saat ini anda lebih baik perbanyak berdoa kepada sang pencipta untuk keselamatannya. Maaf saya permisi dahulu, saya harus melanjutkan pekerjaan saya kembali" .

 

Dengan cemas aku menunggu operasinya sambil terus berdoa yang terbaik bagi Risa.

Beberapa jam pun berlalu hingga hasil operasi telah keluar. Risa berhasil diselamatkan begitulah yang dikatakan suster kepadaku. Aku tak kuasa menahan rasa gembiraku dan langsung bersujud syukur di tempat itu tanpa menghiraukan keramaian sekalipun.

Kemudian aku bergegas menuju ruangan dimana Risa ditempatkan. Disana aku melihat gadis itu terbaring masih dalam keadaan tak sadarkan diri. Kini yang bisa aku lakukan hanya menunggu dan menjaga hingga dia sadarkan diri.

Hari berganti hari, bunga yang tadinya hanya kuncup kini telah bertumbuh menjadi bunga mekar yang indah. Tak terasa sudah 14 hari aku di sini namun Risa masih belum sadarkan diri.

 

" Risa aku harap kau segera sadar dari tidur panjangmu. Sejujurnya aku ingin mengatakan padamu bahwa pada akhirnya apa yang aku katakan padamu selama ini adalah salah" .

 

" Akhirnya aku sadar bahwa yang kau lakukan selama ini adalah hal yang benar. Selama perjalanan ke rumah sakit untuk menyelamatkanmu, aku merasa seolah sang pencipta memudahkan semuanya. Mungkin itu semua berkat kebaikanmu selama ini" .

 

" Dan juga aku ingin membalasmu karena kau telah menyelamatkan hidupku, apapun yang kau inginkan nanti akan aku lakukan bahkan jika kau meminta nyawaku sekalipun akan aku berikan padamu" .

 

" Hmm benarkah itu, aku rasa kau cuma berbohong" jawab Risa atas ucapanku sebelumnya .

 

" Ehh Risa sejak kapan kau terbangun?? " tanyaku dengan terkejut.

 

" Sebenarnya aku sudah terbangun dari tadi pagi, cuma karena aku ingin menjahilimu aku tetap pura-pura tertidur. Tapi siapa sangka aku akan mendengarkan hal yang bagus hehehe.

 

" Eh itu anu apa ya" kataku kebingungan.

 

" Oh ngomong-ngomong apa kau sudah menghubungi ayahku? Aku harap dia tak khawatir padaku" .

 

" Aku tidak tahu harus menghubungi kemana, soalnya aku tidak punya nomor teleponnya dan smartphone milikmu dan simcardnya sudah hancur terlindas mini bus waktu itu" .

 

" Oh begitu ya. Nanti saja aku menghubunginya lewat Smartphonemu soalnya aku hapal nomornya.

 

" Ngomong-ngomong Risa terima kasih karena telah menyelamatkanku" .

 

" Sudahlah tidak usah dipikirkan, aku melakukan itu semua karena aku ingin menolongmu dan lagi pula aku tidak ingin kehilanganmu" .

 

" Sebenarnya alasan selama ini aku melakukan kebaikan karena aku terinspirasi dari ayahmu dan kamu. Ayahmu menolong Ayah dan aku yang terjebak dalam kecelakaan maut. Jika saat itu Ayahmu tidak ada, mungkin kami sudah tidak ada di dunia ini. Dan juga mungkin kamu sudah tiada juga hehehe.

 

" tapi kenapa ayahmu tidak menolong ayahku saat kami kesulitan" .

 

" Saat itu ayah telah menawarkan pertolongannya pada ayahmu namun ayahmu menolaknya. Dia berkata bahwa dia ingin memulai semuanya dari awal lagi dengan kekuatannya sendiri.

 

" Dia juga ingin agar kamu dan adik-adikmu merasakan bagaimana kehidupan orang yang kekurangan agar kelak jikalau kalian sukses, Kalian tidak akan sombong dan mau membantu orang yang membutuhkan" .

 

" Aku tidak tahu kalau ayah seperti itu, selama ini aku selalu menyalahkan dia atas sifatnya itu yang membuatku harus menanggung semuanya" .

 

" Sudah jangan terlalu dipikirkan, yang perlu kau lakukan hanyalah memulai langkah yang baru dan memperbaiki diri, aku harap kau kembali mejadi dirimu yang dulu aku kagumi, pria baik yang selalu menolong orang yang kesulitan disekitarnya" .

 

" Ya aku akan berusaha menjadi orang yang baik lagi setelah ini, aku berjanji padamu dan pada diriku sendiri" .

 

" Sebelum itu apakah kau benar-benar akan mengabulkan semua permintaanku??

 

" Iya pasti akan aku kabulkan selama aku sanggup melakukannya" .

 

" Kalau begitu mendekatlah padaku, aku akan membisikkan keinginanku padamu" .

 

Gadis itu membisikkan keinginannya ditelingaku kemudian ia memejamkan kembali kedua kelopak matanya. Aku kemudian pergi meninggalkannya sendirian agar aku tak mengganggu tidur panjangnya. Itulah saat terakhir aku melihat Risa, temanku dari kecil.

5 tahun telah berlalu sejak saat itu, entah kenapa aku tiba-tiba teringat kejadian luar biasa itu. Kini aku sudah menikah dengan gadis pujaan hatiku dan kami dikarunia dua orang anak. Seorang laki-laki dan seorang perempuan.

Mungkin kalian bertanya tentang apa yang terjadi pada Risa sejak saat itu. Sejujurnya aku tak pernah melihat dia lagi, Risa teman masa kecilku. Kini aku melihat Risa sebagai seorang istri yang akan kubahagiakan seumur hidupku dan aku sebagai suami yang tetap ia jaga agar aku selalu dalam kebaikan.

 

Tentang permintaannya padaku dia hanya berkata :

 

" Kamu harus terus berada disisiku seumur hidupmu agar aku bisa terus menjagamu agar tetap dalam kebaikan ".

 

 

.....FIN.....

 

 

CAPEK JUGA NGETIKNYA SAMA MIKIRIN CERITA CERPENNYA tertanda Riz Anggora - Kebaikan Sejati.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url